Sewaktu SD guruku selalu
berpesan hiduplah seperti Padi makin berisi makin merunduk, seperti hidup
semakin kau memiliki ilmu tetaplah untuk rendah hati.
Sunday, February 12, 2006
MERAH PUTIH itu BERKIBAR di SIRKUIT SENTUL
Selamat untuk Organizing Comitte-nya A1 Grand Prix di Sentul, yang telah berhasil menyuguhkan tontonan balap mobil dunia yang sungguh-sungguh menarik ketika ditonton. di layar kaca saja sudah begitu menegangkan apalagi jika saya berada di hiruk-pikuknya para penonton yang berdesak-desakan di tribun.ya, suguhan spektakuler layaknya Balap mobil F-1 berhasil diadakan di Indonesia, di tengah-tengah keraguan atas kesiapan sentul untuk menjadi tuan rumah seri A-1, karena semenjak menjadi tuan rumah untuk balap motor GP 500 cc yang kini berubah menjadi moto Gp, praktis Sentul tidak pernah lagi menyelenggarakan perhelatan lomba balap Internasional bertaraf Dunia, tertinggal jauh memang jika kita bandingkan dengan negara tetangga kita Malaysia yang boleh berbangga dengan Sirkuit Sepang. Indonesia telah berhasil menjadi tuan rumah yang baik,itu akan menjadi catatan penting, kerana perheltan A-1 akan terus diadakan di Sentul hingga 2008, bahkan Presiden Susilo Bambang Yudoyono pun rela mengendarai motor untuk sampai ke Sentul karena mobil negara terjebak kemacetan menuju Sentul. sesuatu yang patut diberikan apresiasi membuktikan pada Dunia bahwa Indonesia aman untuk dijadikan ajang perhelatan Internasional, bahkan menurut chief eksekutif A-1 balapan di Sentul adalah penyelenggaraan balapan terbaik setelah Durban,Afsel,dengan tipe sirkuit yang cepat sehingga menyuguhkan atraksi-atraksi balapan yang sangat dinanti-nanti oleh penggemar motos sport di seluruh dunia. Merah Putih pun berkibar dimana-mana, walaupun di dua race Ananda Mikola tak dapat berbuat banyak untuk menghasilkan poin bagi Indonesia,tapi tetap saja Indonesia akan terus berkibar dengan tegak, sabar Ananda masih ada Sentul2007. Untuk saat ini kita hanya perlu pengakuan dari dunia bahwa Indonesia dapat menjadi tuan rumah race yang sukses,2007 kibarkanlah Merah Putih itu di tribun Sentul. Bravo Merah Putih.
Jyllands-Posten,SEBUAH BALADA DUNIA YANG MENGHEBOHKAN
"Tetapi tak dapat dibantah bahwa telah menyinggung perasaan umat Islam dan karena itu kami meminta maaf,"
Itulah sepenggal kata dari salah satu pimpinan redaksi Jyllands-Posten, Carsten Juste. suatu kalimat yang pendek dan ringan yang terlepas begitu saja menganggap bahwa pemuatan ke-12 gambar kartun itu biasa-biasa saja dan tidak dimaksudkan untuk menyinggung perasaan siapa pun.Adalah salah besar jika mereka mengganggap bahwa pemuatan kartun itu hanya bentuk ekspresi sebuah kebebasan pers di negara itu.
Dalam hal ini seharusnya Pemerintah Denmark harus meminta maaf dan mengklarifikasi atas pemuatan gambar kartu tersebut. tapi lewat Menteri Luar Negeri nya , Per Stig Moeller memberikan pernyataan bahwa "Kami tak akan meminta maaf. Namun sangat penting bagi kami untuk menekankan bahwa kami adalah sebuah masyarakat yang mendukung adanya toleransi dan saling menghormati,'' pernyataan yang kembali menyulut amarah , sehingga demonstrasi anti Denmark pun terus meluas.
Kurt Westergaard, seorang Non Muslim Denmark lah yang berhasil memenangkan sayembara pembuatan ilustrasi gambar Nabi Muhammad SAW yang diadakan oleh Harian Jyllands-Posten itu.dari ke-12 gambar kartun tersebut, salah satunya terlihat seorang yang menggunakan surban berbentuk bom. Di bawah gambar ilusi hasil perlombaan masyarakat non-Muslim Denmark, itu tertulis: ''Prophet Mohammad Cartoons'' (kartun Nabi Muhammad). Tepat di sampingnya, ada sebuah gambar seorang laki-laki duduk di belakang meja. Tangannya memegang sebuah poster bertuliskan: ''This Is Freedom of Expressions'' (ini adalah kebebasan berekspresi). kebebasan ekspresi yang kebablasan, Dunia pun kaget amat sangat seluruh umat Islam diseluruh jagat ini marah besar, semua turun kejalan meneriakkan protes atas pelecehan terhadap Islam, sesuatu yang sangat fundamental terhadap kepercayaan dari hampir 2,5 milyar penduduk di dunia ini. Islam sangat mengutuk keras bentuk upaya apapun dalam memvisualisasikan seorang Nabi.
Sebanyak seratus orang anggota Taliban malah menyatakan siap untuk melakukan serangan bunuh diri menyusul pemuatan kartun Nabi Muhammad SAW di sejumlah media massa Barat. Demikian diungkapkan oleh salah seorang pemimpin Taliban, Mullah Dadullah, pihaknya juga menyediakan hadiah bagi siapa saja yang berhasil membunuh orang-orang yang bertanggung jawab atas pembuatan dan pemuatan kartun tersebut. ''Kami akan memberikan hadiah emas seberat 100 kg kepada mereka yang berhasil membunuh pembuat kartun itu,'' katanya. Sedangkan hadiah 5 kg emas diberikan kepada siapa saja yang mampu membunuh personel pasukan Denmark, Jerman, maupun Norwegia. Dadullah menyatakan, media-media di ketiga negara tersebut telah memuat kartun yang melecehkan Nabi Muhammad SAW dan memicu amarah umat Islam di seluruh dunia.
rakyat Iran pun tak kalah dalam melancarkan protesnya, mereka pun mengadakan sayembara pemuatan kartun Holocaust, sebuah tragedi Genocide (upaya untuk pengahapusan ras tertentu) yang dilakukan oleh Adolf Hitler dengan Nazi-nya yang berhasil membantai 6 juta kaum yahudi di Jerman.sayembara itu hanya ingin memberi tahukan kepada media barat sebatas mana kebebasan pers itu bisa berekspresi jika menyinggung ke masalah yang fundamen.kontan atas sayembara itu kaum yahudi dalam hal ini pemerintah Amerika Serikat melakukan protes terhadap Iran, mereka menyebutkan bahwa Pembantaian 6 juta etnis yahudi itu bukanlah sebuah lelucon yang dapat di kartunkan. sebuah kecaman yang menimbulkan ironi, Amerika tidak tahu bagaiamana sakitnya perasaan umat Islam sedunia atas pemuatan kartun dari seorang Nabi yang sangat dijunjung dan sangat di agung-agungkan itu.mereka tidak tahu bahwa jika area tersebut di usik sedikit saja, maka tunggulah seluruh umat Islam akan bersatu untuk memberangus siapa saja yang telah menghina agama mereka.
Balada itu terus berlanjut,gelombang kecaman, protes, demonstrasi yang meneriakkan anti Denmark terus mengalir, tidak terkecuali di Indonesia, tapi ada satu hal yang lucu disaat umat islam sedang marah-marahnya atas pemuatan kartun oleh tabloid Denmark, Tabloid mingguan Gloria terbitan Jawa Pos Media Group, mengekor koran Denmark, Jyllands-Posten. Media yang populer di kalangan umat Nasrani dan berkantor di Jalan Karah Agung, Surabaya, Jawa Timur, itu memuat kartun penghinaan kepada Nabi Muhammad SAW, di tengah gelombang protes Umat Islam Indonesia dan dunia.''Tabloid Gloria ibarat menyiramkan bensin dalam kobaran api". begitu pula dengan tabloid PETA yang bermarkas di Bekasi, walaupun dari pihak redaksi telah meminta maaf atas pemuatan kartun tersebut dan sebagian besar tabloid yang telah beredar itu ditarik kembali, tetapi itu tidak cukup hanya dengan permohonan maaf,proses hukum harus dilakukan atas pemuatan kembali gambar kartun yang isinya menyatakan permusuhan dan kebencian itu.
seharusnya kita harus pintar dalam menyikapi hal ini, pemuatan ke-12 gambar kartun itu memang telah menyinggung perasaan kita sebagai seorang muslim, kita pasti paham atas sikap saudara-saudara kita yang melakukan aksi pengrusakan atas bangunan-bangunan kedubes Denmark di Syiria,Afganistan,Iran dan di negara-negara Islam lainnya, sebagai bentuk sensitivitas perasaan mereka atas pemuatan kartun tersebut. aksi demo adalah media yang paling efektif dalam menyampaikan aspirasi tetapi perlu dingat agar aksi demo itu harus mengedepankan akhlak islami, yaitu cara damai tanpa mengurangi sikap tegas kita sebagai Muslim. Ini untuk menghindari pihak ketiga yang menunggangi aksi tersebut sehingga merugikan citra Islam. sebuah dialog haruslah terjadi antara negara-negara Muslim yang tergabung dalam Organisasi Konferensi Islam (OKI) untuk menjelaskan larangan terhadap visualisasi Nabi Muhammad SAW dalam bentuk apapun kepada negara-negara Barat, agar nantinya tidak akan terulang lagi walau dengan dalih kebebasan Pers sekalipun. Semoga mereka-mereka yang berada dalam lingkaran pemuatan kartun tersebut memperoleh balasan yang lebih dari setimpal di hari akhir nanti.Amin.
Kekerasan terhadap anak-anak bisa dilakukan oleh siapa saja. Dari orang lain, tetangga, hingga negara. salah satu bentuk kekerasan terhadap anak yang tak kalah memedihkannya: kekerasan yang dilakukan orang tuanya sendiri. Kekerasan yang dilakukan orang tua bisa mengambil bentuk yang beragam, dari kekerasan fisik, psikologis hingga ekonomi.Atas dasar itulah saya hendak membangkitkan kembali nama Kahlil Gibran. Sebab Gibran punya sebuah kado berupa sepucuk sajak bagi orang tua mana pun yang masih kukuh meyakini bahwa anak-anak adalah milik mereka. Begini bunyi kutipan Gibran itu:“Anakmu bukan milikmu. Mereka putera-puteri Sang Hidup yang rindu pada diri sendiri. Lewat engkau mereka lahir, namun tidak dari engkau. Mereka ada padamu, namun bukan hakmu. Berikan mereka kasih sayangmu, tapi jangan sodorkan bentuk pikiranmu, Sebab pada mereka ada alam pikiran tersendiri. …Kau boleh berusaha menyerupai mereka, Namun jangan membuat mereka menyerupaimu. Kaulah busur, dan anak-anakmulah anak panah yang meluncur.”Jika direnungkan baik-baik, puisi Gibran dari buku masyhurnya, The Prophet, pastilah akan menampar telak tiap orang tua mana pun yang masih bersikukuh mengklaim dirinya punya hak sepenuhnya atas nasib dan masa depan anak-anak mereka. Dengan klaim itulah banyak orang tua, yang sadar atau tidak, telah melakukan kekerasan yang jauh lebih sistematis dan berefek panjang terhadap masa depan anak-anaknya.Atas nama masa depan anak-anak mereka, banyak orang tua yang dengan sengaja menentukan program yang harus ditempuh oleh anak-anaknya. Program-program itu beragam, dari mulai harus sekolah di mana hingga jenis les apa yang mesti diambil. Orang tua model inilah yang hakkul yaqin anak-anak mereka akan sukses di kemudian hari jika konsisten menempuh program hidup yang mereka rencanakan sebelumnya. Dengan berderet dakwaan di atas, saya tentu saja tidak sedang melucuti kewajiban orang tua untuk mendidik anak-anaknya dengan sebaik mungkin. Sama sekali tidak demikian.di tengah proses pendidikan orang tua terhadap anak-anaknya, kerap kali terjadi, dan karena itulah disebut kekerasan, orang tua sama sekali (atau jarang) tidak pernah mengajak bicara anak-anak mereka, atau setidaknya mengamati secara detail dan tulus apa sebetulnya yang menjadi minat anak-anaknya. Semuanya hanya ditentukan oleh naluri atau sering terjadi berdasar pengalaman pribadi para orang tua di masa silam, tanpa mau ambil pusing memikirkan bahwa zaman telah berganti, dan karenanya tantangan serta kerikil yang menghadang pun sudah tak lagi persis dengan yang mereka alami dulu.Ada pula jenis orang tua yang mendidik anaknya dengan cara memberikan fasilitas hidup yang selengkap-lengkapnya (bahkan berlebihan) sementara para orang tuanya sendiri asyik dengan karirnya sendiri. Orang tua inilah yang secara serampangan menafsirkan arti perhatian dan kasih sayang melulu dengan ukuran uang dan material. Orang tua seperti inilah yang telah menciptakan keluarga tak ubahnya sebagai “sangkar emas”.Keluarga menjadi “sangkar emas” ketika anak beroleh semua fasilitas yang material dan fisikal tapi tanpa diselimuti kehangatan, keakraban dan ketulusan. Saat keluarga menjadi “sangkar emas”, anak-anak hanya kenal haknya. Ia tak akan paham bahwa dirinya juga punya kewajiban yang mutlak dilaksanakan. Anak-anak juga tak pernah mengerti bahwa di dunia ini tak ada yang gratis, bahwa semua itu harus diperjuangan dengan keringat dan kerja keras.Jika mode pendidikan seperti ini yang dilakukan oleh orang tua terhadap anaknya, maka model pendidikan inilah yang oleh Paulo Freire sebut sebagai “paedagogi hitam”. Jenis paedagogi inilah yang kelak akan memangkas kemerdekaan anak-anak dan yang akan menjadikan mereka tak ubahnya sebagai robot yang bisa dikendalikan oleh sebentuk remote control bernama: orang tua!Keluarga seperti itulah yang akan melahirkan sebentuk barisan yang oleh Schiller, pujangga Jerman abad 18, disebut sebagai “generasi kerdil”: generasi yang tak bisa mengambil sikap secara mandiri, merdeka, dan melulu bertumpu pada uluran tangan orang lain. Tak ada yang bisa diharapkan dari generasi dengan karakter rapuh macam itu.Jangan harapkan generasi model ini dapat melakukan sebuah transformasi sosial. Bagi “generasi kerdil” macam itu, dunia yang penuh sengkarut bukanlah masalah yang patut dipikirkan bersama pemecahannya. Generasi seperti inilah yang selalu berfikir.
SEJARAH TUA Sejarah tua kau pernah bersajak;bang jangan lupa malam mendadak senyap,hanya suaramu melambung keudara membentuk gumpalan-gumpalan,membentuk pulau-pulau dengan rumah kecil lengkap dengan masjid megah didalamnya malam lewat,kita kembali pulang kedalam sunyi masing-masing,aku hanya bisa mengingat matahari kecil di ujung rambutmu dan bunga-bunga tak henti-hentinya merekah di matamu yang menyimpan seribu bintang dimana kau kini,laut yang pernah menampung kemarau setelah rumah menjadi puing dan orang-orang larut dalam gelombang.......aku mencari tapi dimana aku harus bertanya sebab begitu luasnya duka aku tak dapat melukiskan lagi;pasir basah dan angin laut menggigilkanmu malam itu dan juga lampu-lampu nelayan yang jauh bagai kota-kota tempat kita menuliskan tanda-tanda lalu menjadi sejarah dunia.....menjadi tua....
Name: Khairul Fuadi Home: Bengkulu, Sumatra, Indonesia About Me: dilahirkan di Bengkulu 23thn yang lalu, 13 tahun menghabiskan pendidikan formal TK-SMA di Bengkulu,setelah menamatkan SMA memiliki keinginan untuk melanjutkan ke STPDN, alhamdulillah ga diterima (walau pada saat tes mulai dari awal-akhir tidak pernah terlempar dari 4 besar). sekarang masih tercatat sebagai mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional Univeritas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) semester akhir. aktif di organisasi pergerakan kampus dan himpunan mahasiswa jurusan. sekarang diberi amanah sebagai Kabid Sosek Pengurus Cabang AR.FAkhruddin IMM Kota Yogyakarta, pernah mewakili KOMAHI (Korps Mahasiswa Hubungan Internasional)UMY dan Indonesia pada secretary general CAYC dan mendapatkan ASEAN TAYO (Teen Achomplished Youth Organization) 2007 award di Cebu Filipina. See my complete profile