space of revolution
Sewaktu SD guruku selalu berpesan hiduplah seperti Padi makin berisi makin merunduk, seperti hidup semakin kau memiliki ilmu tetaplah untuk rendah hati.
Friday, February 03, 2006
MENJADI GENERASI KERDIL!

Kekerasan terhadap anak-anak bisa dilakukan oleh siapa saja. Dari orang lain, tetangga, hingga negara. salah satu bentuk kekerasan terhadap anak yang tak kalah memedihkannya: kekerasan yang dilakukan orang tuanya sendiri. Kekerasan yang dilakukan orang tua bisa mengambil bentuk yang beragam, dari kekerasan fisik, psikologis hingga ekonomi.Atas dasar itulah saya hendak membangkitkan kembali nama Kahlil Gibran. Sebab Gibran punya sebuah kado berupa sepucuk sajak bagi orang tua mana pun yang masih kukuh meyakini bahwa anak-anak adalah milik mereka. Begini bunyi kutipan Gibran itu:“Anakmu bukan milikmu. Mereka putera-puteri Sang Hidup yang rindu pada diri sendiri. Lewat engkau mereka lahir, namun tidak dari engkau. Mereka ada padamu, namun bukan hakmu. Berikan mereka kasih sayangmu, tapi jangan sodorkan bentuk pikiranmu, Sebab pada mereka ada alam pikiran tersendiri. …Kau boleh berusaha menyerupai mereka, Namun jangan membuat mereka menyerupaimu. Kaulah busur, dan anak-anakmulah anak panah yang meluncur.”Jika direnungkan baik-baik, puisi Gibran dari buku masyhurnya, The Prophet, pastilah akan menampar telak tiap orang tua mana pun yang masih bersikukuh mengklaim dirinya punya hak sepenuhnya atas nasib dan masa depan anak-anak mereka. Dengan klaim itulah banyak orang tua, yang sadar atau tidak, telah melakukan kekerasan yang jauh lebih sistematis dan berefek panjang terhadap masa depan anak-anaknya.Atas nama masa depan anak-anak mereka, banyak orang tua yang dengan sengaja menentukan program yang harus ditempuh oleh anak-anaknya. Program-program itu beragam, dari mulai harus sekolah di mana hingga jenis les apa yang mesti diambil. Orang tua model inilah yang hakkul yaqin anak-anak mereka akan sukses di kemudian hari jika konsisten menempuh program hidup yang mereka rencanakan sebelumnya. Dengan berderet dakwaan di atas, saya tentu saja tidak sedang melucuti kewajiban orang tua untuk mendidik anak-anaknya dengan sebaik mungkin. Sama sekali tidak demikian.di tengah proses pendidikan orang tua terhadap anak-anaknya, kerap kali terjadi, dan karena itulah disebut kekerasan, orang tua sama sekali (atau jarang) tidak pernah mengajak bicara anak-anak mereka, atau setidaknya mengamati secara detail dan tulus apa sebetulnya yang menjadi minat anak-anaknya. Semuanya hanya ditentukan oleh naluri atau sering terjadi berdasar pengalaman pribadi para orang tua di masa silam, tanpa mau ambil pusing memikirkan bahwa zaman telah berganti, dan karenanya tantangan serta kerikil yang menghadang pun sudah tak lagi persis dengan yang mereka alami dulu.Ada pula jenis orang tua yang mendidik anaknya dengan cara memberikan fasilitas hidup yang selengkap-lengkapnya (bahkan berlebihan) sementara para orang tuanya sendiri asyik dengan karirnya sendiri. Orang tua inilah yang secara serampangan menafsirkan arti perhatian dan kasih sayang melulu dengan ukuran uang dan material. Orang tua seperti inilah yang telah menciptakan keluarga tak ubahnya sebagai “sangkar emas”.Keluarga menjadi “sangkar emas” ketika anak beroleh semua fasilitas yang material dan fisikal tapi tanpa diselimuti kehangatan, keakraban dan ketulusan. Saat keluarga menjadi “sangkar emas”, anak-anak hanya kenal haknya. Ia tak akan paham bahwa dirinya juga punya kewajiban yang mutlak dilaksanakan. Anak-anak juga tak pernah mengerti bahwa di dunia ini tak ada yang gratis, bahwa semua itu harus diperjuangan dengan keringat dan kerja keras.Jika mode pendidikan seperti ini yang dilakukan oleh orang tua terhadap anaknya, maka model pendidikan inilah yang oleh Paulo Freire sebut sebagai “paedagogi hitam”. Jenis paedagogi inilah yang kelak akan memangkas kemerdekaan anak-anak dan yang akan menjadikan mereka tak ubahnya sebagai robot yang bisa dikendalikan oleh sebentuk remote control bernama: orang tua!Keluarga seperti itulah yang akan melahirkan sebentuk barisan yang oleh Schiller, pujangga Jerman abad 18, disebut sebagai “generasi kerdil”: generasi yang tak bisa mengambil sikap secara mandiri, merdeka, dan melulu bertumpu pada uluran tangan orang lain. Tak ada yang bisa diharapkan dari generasi dengan karakter rapuh macam itu.Jangan harapkan generasi model ini dapat melakukan sebuah transformasi sosial. Bagi “generasi kerdil” macam itu, dunia yang penuh sengkarut bukanlah masalah yang patut dipikirkan bersama pemecahannya. Generasi seperti inilah yang selalu berfikir.
posted by Khairul Fuadi @ 8:03 AM  
0 Comments:
Post a Comment
<< Home
 

takkan ada batasan,ketika semua [perlu] ruang,.
About Me

Name: Khairul Fuadi
Home: Bengkulu, Sumatra, Indonesia
About Me: dilahirkan di Bengkulu 23thn yang lalu, 13 tahun menghabiskan pendidikan formal TK-SMA di Bengkulu,setelah menamatkan SMA memiliki keinginan untuk melanjutkan ke STPDN, alhamdulillah ga diterima (walau pada saat tes mulai dari awal-akhir tidak pernah terlempar dari 4 besar). sekarang masih tercatat sebagai mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional Univeritas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) semester akhir. aktif di organisasi pergerakan kampus dan himpunan mahasiswa jurusan. sekarang diberi amanah sebagai Kabid Sosek Pengurus Cabang AR.FAkhruddin IMM Kota Yogyakarta, pernah mewakili KOMAHI (Korps Mahasiswa Hubungan Internasional)UMY dan Indonesia pada secretary general CAYC dan mendapatkan ASEAN TAYO (Teen Achomplished Youth Organization) 2007 award di Cebu Filipina.
See my complete profile
Previous Post
Archives
Shoutbox

Links
My Album

Times

Times

Pengunjung

    Free Web Counter

Powered by

Blogger Templates

BLOGGER