Sewaktu SD guruku selalu
berpesan hiduplah seperti Padi makin berisi makin merunduk, seperti hidup
semakin kau memiliki ilmu tetaplah untuk rendah hati.
Friday, December 29, 2006
Renungan Akhir tahun
Ketika Tak Lagi Saling Memahami
Orang Bijak yang mengenakan toga hitam itu tampak duduk elegan di kursi kebesarannya. Tangan kanan memegang palu. Sorot matanya tajam menyapu setiap sudut ruangan dan memperhatikan setiap gerak hadirin.
Sikapnya yang tenang dengan raut yang mahal senyum membuatnya semakin tampak terhormat. Suasana di ruang itu terasa sepi, hadirin hanyut dalam pikiran masing-masing.
Kali ini memang agak berbeda dan unik. Dua tokoh yang menjadi target dan topik pembahasan hadir dengan sukarela. Tuntutan kecil tanpa reaksi yang menjurus destruktif sudah cukup menggugah sang tokoh untuk hadir mempertanggungjawabkan kinerjanya.
Maklum saja, kedua orang tersebut adalah tokoh top olahraga. Karena itu, pengunjung dari kalangan olahraga pun selalu bersikap sportif. Tidak ada lempar batu sembunyi wajah.
Dua tokoh kita yang kejujurannya dituntut dihadirkan bergantian. Tokoh yang lebih tua dengan perangai riang dan akrab tampil lebih awal.
***
“Bung, apa yang telah Anda lakukan?” Orang Bijaksana memecah keheningan.
“Oh, sudah banyak sekali. Saya mengorbankan waktu dan uang. Hampir seluruh hidup saya berikan demi kemajuan olahraga negeri ini,” sahut pria yang duduk persis di depannya.
“Atas nama negeri ini, saya haturkan terima kasih. Sungguh luar biasa seseorang seperti Anda masih sudi menyisihkan waktu.”
” Oh, tidak apa-apa, sebagai warga negara yang baik, itu sudah merupakan kewajiban. Hingga kapan pun, darah dan jiwa saya siap berkorban untuk terus bergelut dalam pembinaan.
Kembali Orang Bijak bertanya: “Bagaimana cara Anda menjalankan pembinaan yang sangat memerah tenaga dan dana itu?”
”Modal pertama saya adalah sikap percaya. Semua orang yang terlibat di dalam pembinaan diberi kebebasan berkreasi dan menekankan tanggung jawab. Saya yakin mereka sudah dewasa dan menyadari tugas masing-masing.”
” Oh, begitu. Apakah mereka diberi target dalam proses pencapaian setiap tahapan, lalu diminta hasil evaluasi untuk jangka waktu tertentu dan teguran bagi yang tidak sesuai prosedur?”
” Ah, Pak Bijak, gini lho, saya ini tidak tega bermain keras. Lihatlah, saya sering sekali datang ke pelatnas untuk menengok atlet berlatih. Saya sapa mereka, saya beri uang saku tambahan dan bercanda untuk menghilangkan rasa jenuh.”
“Jadi tak perlu ada punishment? Yang ada hanya reward?”
“Untuk apa punishment? Mereka sudah terlalu capek untuk dihukum. Kalau bisa, saya hanya setuju dengan reward. Soal hasil akhir dari latihan atlet, kita tidak terlalu mempersoalkannya, yang penting berlatih keras.”
“Bung, apa Anda tidak punya tim pengawas?”
“Tentu saja ada! Mereka adalah orang-orang yang loyal. “Mereka tidak pernah menyusahkan saya. Selalu mengatakan yang baik dan sama seperti saya, tidak tega menyakiti hati atlet dan pelatih.”
”Tapi, buktinya prestasi atlet negeri ini tidak bagus di arena internasional selama kepengurusan Anda.”
”Maaf Pak. Intinya bukan di situ, tapi pada niat dan kerja keras. Semua tinggal soal waktu dan momentum yang tepat. Yang penting saya telah berbuat baik.”
“Setelah gagal belum lama ini melanjutkan kegagalan sebelumnya, apakah masih berniat meneruskan tugas mulia itu?”
”Rencana saya dan tim memang demikian.”
Tiba waktunya bagi Orang Bijak memberi pandangan akhir: “Anda memang baik, tapi saya memutuskan tidak boleh lagi. Biarlah orang lain yang meneruskan tugas meningkatkan prestasi olahraga negeri ini. Tok… tok… tok..!
***
”Silakan duduk”, kata Orang Bijak kepada pria yang tampil penuh percaya diri sebagai seorang Menteri Olahraga. “Apakah saudara telah memberi hasil baik bagi kemajuan prestasi negeri ini?”
“Jelas dong. Lihatlah olahraga kita telah berjalan dengan aman dan tenteram karena sudah dilindungi payung undang-undang. Kalau bukan karena saya, itu tidak mungkin disetujui”.
“Tapi, kenapa prestasi atlet justru mengecewakan walau undang-undang hasil perjuangan Anda itu telah ada?”
“Oh, itu bukan urusan saya lagi. Yang tidak dapat bekerja dengan baik adalah para pengurus olahraga dan tokoh utama di puncak organisasi itu sendiri”.
“Apakah Anda pernah melakukan evaluasi secara mendalam terhadap pembinaan olahraga?”
“Pasti dong! Semua saya evaluasi dengan tegas dan keras. Saya marahi mereka yang tidak bagus melatih. Lihatlah, koran-koran pun tahu betul bagaimana saya marah dan mengejek atlet dan pelatih yang tak becus. Wartawan suka pada saya karena gaya saya yang lugas.”
“Jangankah pelatih, tokoh olahraga nomor satu yang Anda sidangkan tadi pun sering saya sindir dan saya tantang secara terbuka. Lewat koran berkali-kali saya salahkan dia yang tak tunduk dan hormat pada menteri.”
”Apakah Anda sering mengajaknya berdiskusi dengan kepala dingin membicarakan persoalan olahraga sesungguhnya?”
”Pak, saya ini orang penting. Mana boleh tampak lemah di mata rakyat? Kalau mau, mereka dong yang datang dan membuat permohonan kepada saya secara resmi untuk berdialog.”
”Omong-omong, apa kantor Anda memiliki sesuatu rencana besar soal cara membangun olahraga bangsa ini?”
“Karena saya belum lama menjadi menteri, tim kami belum punya agenda besar. Hal-hal teoritis seperti itu tidak penting. Yang utama adalah melatih atlet menjadi juara. Pokoknya prestasi harus tinggi. Begini saudara-saudara: dalam pembinaan olahraga, yang penting adalah jadi juara…. Juara itu adalah…. ”
”Saya pikir cukup. Ternyata Anda lebih suka bicara apa adanya tanpa perlu dipikirkan matang-matang. Apa tidak pernah memikirkan mengikuti tindakan Menteri Olahraga Taiwan, yang mundur karena merasa gagal?”
Name: Khairul Fuadi Home: Bengkulu, Sumatra, Indonesia About Me: dilahirkan di Bengkulu 23thn yang lalu, 13 tahun menghabiskan pendidikan formal TK-SMA di Bengkulu,setelah menamatkan SMA memiliki keinginan untuk melanjutkan ke STPDN, alhamdulillah ga diterima (walau pada saat tes mulai dari awal-akhir tidak pernah terlempar dari 4 besar). sekarang masih tercatat sebagai mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional Univeritas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) semester akhir. aktif di organisasi pergerakan kampus dan himpunan mahasiswa jurusan. sekarang diberi amanah sebagai Kabid Sosek Pengurus Cabang AR.FAkhruddin IMM Kota Yogyakarta, pernah mewakili KOMAHI (Korps Mahasiswa Hubungan Internasional)UMY dan Indonesia pada secretary general CAYC dan mendapatkan ASEAN TAYO (Teen Achomplished Youth Organization) 2007 award di Cebu Filipina. See my complete profile